Monday, August 6, 2012

Putri Anam dan Putri Bussu


Alkisah, di suatu tempat di Kalimantan Barat, hiduplah dua gadis kakak beradik. Si sulung bernama Putri Anam, sedangkan adiknya bernama Putri Bussu. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda. Putri Anam gadis pemalas, serakah, dan tidak sabar, sedangkan Putri Bussu adalah gadis yang rajin, sabar, cerdik, dan luhur budi pekertinya.

Suatu siang yang terik, Putri Bussu sedang duduk di teras rumah sambil mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan. Tanpa diduga, tiba-tiba kipasnya diterbangkan angin hingga tersangkut di atas pohon jeruk di halaman rumah Pak Rusa’, tetangganya. Maka, cepat-cepatlah ia mengejar kipas itu. Rupanya, kipas itu tersangkut di dahan pohon jeruk yang paling tinggi. Karena ia tidak kuat memanjat, ia pun bermaksud untuk meminta bantuan kepada Pak Rusa’.

“Permisi…! Permisi… Pak Rusa!“ teriak Putri Bussu di depan pintu rumah Pak Rusa’.

Tak berapa kemudian, Pak Rusa’ pun keluar dari dalam rumahnya.

“Ada apa, Putri Bussu? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Rusa’ yang baik hati itu.

“Iya, Pak Rusa’. Kipasku tersangkut di atas pohon jeruk itu,” kata Putri Bussu sambil menunjuk ke arah kipasnya, “Bolehkah saya minta tolong diambilkan kipas itu?”

“Tentu, Putri Bussu. Tapi, tolong buatkan aku semangkuk bubur,” pinta Pak Rusa’.

“Baiklah,” jawab Putri Bussu seraya masuk ke dalam rumah Pak Rusa’.

Sementara Putri Bussu membuat bubur, Pak Bissu memanjat pohon jeruk. Lelaki paruh baya itu tidak kesulitan mengambil kipas milik Putri Bussu. Setelah turun dari pohon jeruk, ia segera masuk ke dalam rumahnya dan menyerahkan kipas itu kepada pemiliknya.

“Terima kasih, Pak Rusa’,” ucap Putri Bussu setelah mendapatkan kembali kipasnya.

Sambil menunggu bubur itu matang, Pak Rusa’ duduk-duduk di serambi rumahnya. Tidak lama kemudian, Putri Bussu pun keluar membawakannya semangkuk bubur.

“Ini buburnya, Pak. Silakan dicicipi,” ujar Putri Bussu.

“Terima kasih, Tuan Putri,” ucap Pak Rusa’.

Pak Rusa’ tidak langsung menyantap bubur itu karena masih panas. Ia lebih suka menyantap bubur yang sudah dingin. Namun, hingga hari menjelang sore, bubur itu belum juga dimakan. Putri Bussu pun tidak akan kembali ke rumahnya sebelum Pak Rusa’ menyantap bubur buatannya. Sambil menunggu dengan sabar, ia pun berbincang-bincang dengan tetangganya itu. Dalam perbincangan itu, Pak Rusa’ mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada sang Putri.

“Apa yang berbunyi riuh rendah itu, Tuan Putri?” tanya Pak Rusa’.

“Itu orang sedang menumbuk emping,” jawab Putri Bussu.

“Apa yang dikipas-kipas, Tuan Putri?” tanyanya lagi.

“Orang sedang menyapu lantai di siang hari,” jawab sang Putri.

“Apa yang terang benderang, Tuan Putri?” Pak Rusa’ kembali bertanya.

“Bintang timur merupakan tanda hari akan siang,” jawab Putri Bussu.

“Apa yang bergoyang-goyang, Tuan Putri?” tanya Pak Rusa’.

“Daun simpur ditiup angin,” jawab sang Putri.

“Apa yang bergerak-gerak, Tuan Putri?” tanyanya lagi.

“Kayu besar hanyut dari hulu,” jawab Putri Bussu.

“Buburnya sudah matang belum, Tuan Putri?” tanya Pak Rusa’.

“Sudah sejak tadi, Pak Rusa’. Bahkan, buburnya sudah dingin,” jawab Putri Bussu.

Rupanya, Pak Rusa’ lupa pada buburnya karena keasyikan mengobrol dengan Putri Bussu. Karena bubur itu sudah dingin, ia pun segera menyantapnya hingga habis.

“Terima kasih, Tuan Putri. Masakan buburmu enak sekali,” ucap Pak Rusa’, “Jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah sebutir buah labu di dapur.”

“Terima kasih, Pak Rusa’,” jawab Putri Bussu seraya masuk ke ruang dapur Pak Rusa’.

Rupanya, di bawah dapur Pak Rusa’ terdapat banyak labu dengan ukuran yang berbeda-beda. Karena tidak mau serakah, ia pun mengambil labu yang ukurannya paling kecil. Setelah itu, ia pun berpamitan. Sebelum ia pergi, Pak Rusa’ berpesan kepadanya.

“Setelah Tuan Putri sampai di rumah, tutup dulu pintu dan jendela rumah Tuan Putri, lalu masuklah ke dalam kelambu. Setelah itu, baru Tuan Putri membelah labu itu,” pesan Pak Rusa’.

Sesampainya di rumahnya, Putri Bussu menuruti nasehat Pak Rusa’. Alangkah terkejutnya ia setelah membelah labu itu. Ternyata, labu itu berisi emas.

“Oh, Pak Rusa’, terima kasih atas kebaikanmu,” gumam Putri Bussu dengan perasaan gembira.

Sementara itu, Putri Anam yang curiga melihat adiknya masuk ke dalam kelambu di siang bolong segera menghampirinya.

“Hai, Bussu, apa yang kamu lakukan di dalam kelambu?” tanya Putri Anam.

Putri Bussu pun menceritakan perihal labu emas yang diperolehnya dari Pak Rusa’. Mengetahui hal itu, Putri Anam pun berkeinginan untuk memiliki labu seperti milik adiknya.

“Bagaimana caranya kamu mendapatkan labu emas itu dari Pak Rusa?” tanya Putri Anam.

Putri Bussu menjawab jujur dengan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga mendapatkan labu emas itu. Setelah mendengar cerita itu, sang Kakak segera melakukan hal yang sama seperti adiknya. Ia sengaja menerbangkan kipas ke rumah Pak Rusa’. Setelah ia ke rumah Pak Rusa’, lelaki paruh baya itu pun menyuruhnya untuk membuat bubur. Putri Anam segera melaksanakan permintaan itu.

Setelah matang, Putri Anam segera menyajikan bubur itu kepada Pak Rusa’. Seperti biasa, Pak Rusa’ itu tidak suka menyantap bubur panas. Maka, ia pun menunggu bubur itu dingin dulu. Namun, karena tidak sabar ingin segera mendapatkan labu emas itu, Putri Anam berbohong kepada Pak Rusa’.

“Silakan dimakan, Pak Rusa’. Buburnya sudah dingin,” kata Putri Anam.

Pak Rusa’ pun segera menyantap bubur itu. Pada saat ia memakannya, ternyata bubur itu masih panas. Tak ayal, mulut Pak Rusa’ pun terasa terbakar. Bubur yang ada di mulutnya segera dimuntahkan.

“Bubur ini masih panas sekali, Tuan Putri,” tukas Pak Rusa’ dengan kesal.

Meskipun Putri Anam berbohong, Pak Rusa’ tetap akan memberikan labu emas kepadanya. Maka, Pak Rusa’ pun mempersilahkan Putri Anam untuk memilih salah satu labu yang ada di bawah dapurnya.

“Nanti jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah salah satu labu di bawah dapur,” ujar Pak Rusa’.

“Baik, Pak Rusa’,” jawab Putri Anam seraya masuk ke ruang dapur Pak Rusa’.

Ketika sampai di ruang dapur itu, dilihatnya banyak labu. Karena keserakahannya, ia pun memilih labu yang paling besar dan berat.

“Sebaiknya saya pilih labu yang besar ini saja. Pasti emasnya juga banyak,” gumam Putri Anam.

Setelah mengambil labu yang paling besar itu, Putri Anam pun berpamitan. Pak Rusa’ tak lupa berpesan kepadanya seperti pesannya kepada Putri Bussu. Setiba di rumahnya, ia pun segera menutup pintu dan jendela rumah serta kelambunya, lalu membelah labu itu. Alangkah terkejutnya ia setelah labu itu terbelah. Labu itu ternyata bukan berisi emas, melainkan puluhan binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lipan. Tak ayal, putri yang serakah itu pun menjerit-jerit ketakutan. Ketika ia hendak melarikan diri, puluhan binatang buas tersebut telah menggigitnya. Ia pun mengerang-ngerang kesakitan.

Sumber: ceritaanaknusantara

0 comments:

Post a Comment